Bismillah...
Bulan Suci Ramadhan sebentar lagi akan di depan mata, ada rasa yang aneh dalam diriku, seketika menangis sendu, dan seketika menangis bahagia.
Yah... inilah bulan suci Ramadhan pertamaku tanpa Bapak tercinta. Menjelang bulan suci ramadhan seperti ini, rasa terharuku seperti berlomba – lomba dan berloncatan dari tubuh, disitulah air mata ku seolah mampet di ujung mata. Hah... Ya Allah..aku rindu Ramadhan ku bersama bapak, dimana semuanya begitu indah dan spesial sekali.
Saya ingat, saat ramadhan tahun lalu, dimana saya menyiapkan menu menu sederhana kesukaan bapak. Sayur asem dengan sambal tomatnya, dan menu kesukaan bapak lainnya, seperti sayur lodeh dengan sambal goreng tempe kesukaan bapak, meskipun sesekali bapak menyuruhku untuk membeli masakan matang saja untuk menu berbuka puasa bersama berdua di rumah, dan menyiapkan air teh panas kesukaan bapak. Lalu saat adzan maghrib berkumandang aku dan bapak Shalat maghrib terlebih dahulu sebelum menyantap makanan berbuka puasa bersama. :(
Dan aku juga ingat betul, betapa anehnya lebaran tahun lalu, For The Very First Time In My Life, saya mencium pipi bapak, mencium tangan bapak, dan berfoto bersama dengan keluarga, entah kenapa bisa begitu, ada rasa enggan berpisah yang asing, yang tidak bisa dimengerti kenapa demikian.
Saat itu, saya seolah disadarkan bahwa wajah bapak yang menua, dan penyakit Bapak yang mulai menggerogoti daya ketahanan tubuh Bapak, seolah – olah melumat habis dirinya. Ya Allah aku ingin menangis begitu mengingat kenanganku tahun lalu bersama bapak...
Setelah Ramadhan berlalu dan Idhul Fitri tiba, daya tahan tubuh bapak mulai menurun, seolah olah untuk berdiri dengan kedua kakinya pun sudah tak kuat lagi, butuh penopang untuk melakukan aktivitas bapak lainnya, berulang kali bapak berkata, di sela sela aku dan bapak duduk berdua di depan televisi, bahwa Bapak sudah sangat letih, sudah habis tenaganya, dan merasa ingin istirahat saja, mungkin itulah kali terakhir perbincangan terlama yang pernah saya lakukan bersama bapak. :'(
Sambil memijat kaki Bapak yang bengkak dikarenakan komplikasi akibat diabetes yang di idap Bapak puluhan tahun, dan akibatnya semua organ tubuh bapak mulai terkomplikasi. Yang hingga akhirnya puncaknya pada tanggal 1 oktober 2010 bapak harus masuk rumah sakit dan koma, dikarenakan gula darah dalam tubuh bapak naik drastis. Dan menghembuskan nafas terakhirnya di tengah tengah kami sekeluarga. Itulah sebabnya saya trauma kalau harus menginjakan kaki saya di rumah sakit. Bau kreolin ( Pembersih lantai ) yang menyeruak di udara, melihat alat alat kedokteran yang pernah menempel di tubuh bapak, bau obat, bau tubuh para perawat yang mondar mandir di depan hidung.
Iya, saya merindukan bapak, meskipun pernah saya ribut besar dengan bapak, meskipun saya belum menjadi anak yang bisa di banggakan olehnya, ada sejuta keinginan bapak yang masih belum terpenuhi, seperti melihat aku berbahagia, melihat aku sukses, dan melihat aku menjadi anak berguna untuk sesama ku, dan bapak ingin bisa naik haji.
Aku merindukan saat bapak memarahiku, kala Shalat ku yang pernah terabaikan, kala puasa ku yang pernah terlewati, kala nilai ujian ku yang menurun drastis. aku ingat sekali, betapa Bapak mencoba menahan senyum bahagianya saat aku ( yang sudah mati – matian ) untuk memperbaiki Shalat dan ibadah wajib ku kepada Allah lainnya.
Yes, Maybe I Do Miss You Dad, sambil menengadahkan tangan, membacakan doa Alfatihah sebanyak tiga kali, sehabis Sholat ku, mendoakan bapak dengan caraku.
Bapak, semoga bapak bahagia di sana, kami ( Mba lia, Mas Oji, dan Ari ) anak – anakmu selalu sayang kepadamu. Tahun ini, Ramadhan yang sepi tanpa ada Bapak di sini... Kami sayang padamu...Kami rindu suara Batuk Bapak, kami Rindu tetesan air mata Bapak, kami Rindu perintah – perintahmu untuk melaksanakan Shalat dan Puasa, kami rindu suara langkah kaki mu yang tertatih, suara tawa khas mu. Bapak Maafkan jika kami jarang mematuhi perintahmu..
Kami rindu Bapak...
Miss You So Much Pak..!!!